A. Unsur Dramatik
adalah unsur yang bisa melahirkan gerak dramatik pada cerita atau pada pikiran penerimanya.

  1. Konflik (Conflict)
    Adalah pertikaian antara Kehendak melawan Hambatan yang membendung jalannya Kehendak tersebut menuju Tujuannya. Perlawanan ini terjadi, karena sifat alamiah dari kehendak adalah selalu ingin mencapai gol maka ia akan melawan siapa saja yang menahannya.
    Penonton baru bisa ikut merasakan besar kecilnya kualitas konflik jika mereka sudah tahu jelas kualitas dari kekuatan Kehendak dan kekuatan Hambatan.

  2. Kejutan (Suspense)
    Suspense atau ketegangan adalah sebuah kondisi yang muncul pada pikiran penonton. Kondisi ini muncul bukan karena seram atau menegangkannya sebuah adegan yang dipertontonkan, melainkan jika penonton bisa dibuat ragu tentang bisa tidaknya suatu Kehendak Utama melampaui Hambatannya dan mereka tahu resikonya besar bila gagal.
    Untuk membuat penonton tegang, lebih dulu mereka harus tahu dulu berapa besarnya kekuatan Kehendak dan berapa kekuatan Hambatan, serta apa resikonya bila gagal. Jadi, kekuatan dari Kehendak dan Hambatan haruslah imbang. Ketegangan yang timbul akan bertambah besar jika resikonya semakin besar.
  3. Rasa Ingin Tahu (Curiousity)
    Curiousity atau rasa ingin tahu. Keingintahuan seseorang pada sesuatu muncul kalau sesuatu itu tidak jelas, aneh dan ada sebagian informasinya yang masih tertutup. Ketika penonton diperlihatkan adegan seorang gadis cantik berjalan seorang diri di area pemakaman tengah malam atau seseorang sedang menyiapkan bom namun mereka belum tahu siapa dia atau mau apa dan apa hambatannya, maka yang terjadi bukan Ketegangan melainkan Rasa Ingin Tahu. Contoh dalam skenario :

    Scene 26. INT. Rumah Joni. Malam
    Joni mendengar pintu diketuk, buru-buru ia membukanya, namun begitu dibuka wajah Joni amat terkejut melihat tamunya. Wajah tamu tidak diperlihatkan.

    Ketika menunda informasi harus dipertimbangkan dengan seksama jangan sampai merusak ilusi penonton. Sedangkan sesuatu yang dianggap aneh tentunya akan lebih memancing rasa ingin tahu.Kualitas Rasa Ingin Tahu bisa ditingkatkan dengan cara memperpanjang penundaan informasi dan mempertinggi reaksi pelaku-pelaku lain yang menyaksikan.Bila cerita tidak lagi bisa memancing keingintahuan penonton, maka berhenti pula keinginan penonton untuk menyaksikan kejadian selanjutnya. Andai cerita itu di layar televisi, maka penonton akan segera pindah ke stasiun lain. Untuk itulah, begitu pentingnya curiousity maka penulis skenario harus memelihara dan mengelolanya dengan baik sampai akhir cerita.

  4. Kejutan (Surprise)
    Surprise atau kejutan muncul kalau terjadi diluar dugaan. Unsur terpenting dalam membentuk surprise adalah adanya unsur “Duga”. Misalkan, pintu diketuk ada suara “Permisi….” artinya ada tamu. Yang terdengar adalah suara wanita yang lembut, tetapi begitu pintu dibuka ternyata hanya seekor Beo yang pintar bicara. Unsur dramatik surprise banyak digunakan dalam cerita misteri, dimana penonton diberi informasi salah agar menduga si A, atau si B atau si C yang membunuh, pada akhir cerita diungkap ternyata pembunuhnya adalah si D.
    Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menciptakan surprise diantaranya Kehendak atau Action yang belum dikenal secara universal harus dijelaskan dulu. Dalam menjelaskan Kehendak yang telah diketahui juga oleh sebagian penonton haruslah berhati-hati karena penonton yang sudah tahu bisa jadi merasa dianggap bodoh, dan jika kurang jelas bagi mereka yang memang belum tahu maka tidak bisa merasakan efek kejutan yang diinginkan.
    Makin yakin penonton akan dugaannya, makin tinggi kejutannya. Perasaan susah, senang dan sedih bisa menghasilkan kejadian yang mengejutkan, misalnya bila penonton menduga hasil dari suatu Kehendak adalah menyedihkan maka efek yang diberikan oleh surprise-nya adalah menyenangkan, demikian pula sebaliknya.

B. Tugas Konstruksi Dramatik

Tugas Konstruksi Dramatik adalah membuat cerita menjadi menarik ditonton. Untuk memperjelas apa yang harus dilakukan dalam menata Konstruksi Dramatik, kita bisa menggunakan teknik yang terbalik yakni dengan melihat apa yang sebenarnya harus dihindari supaya cerita jangan sampai menarik. Jangan sampai cerita membosankan, tersendat dan meletihkan.

  1. Membosanka
    Efek ini akan dirasakan penonton bila jalan cerita datar karena kurangnya variasi peristiwa-peristiwa yang disampaikan serta kurangnya konflik. Cerita juga membosankan bila tidak memancing keingintahuan penonton karena segalanya sudah jelas dan informasi yang disampaikantidak menarik sehingga penonton tidak merasa perlu untuk mengetahuinya. Penonton juga tidak bisa memahami cerita bila Kehendak Utama atau Tujuannya tidak jelas bagi mereka. Dengan demikian penonton tidak bisa melontarkan dugaannya sehingga mereka merasa tidak bisa terlibat dalam cerita yang berjalan. Penggunaan flashback yang tidak ada gunanya dan pemberian informasi yang jelek misalnya tokoh-tokohnya tidak jelas atau dilakukan penundaan yang tidak perlu bisa juga menimbulkan kebosanan. Faktor lain yang membuat penonton bosan adalah cerita yang dihadirkan tidak menggerakkan atau mengembangkan emosi penonton. Hal ini terjadi manakala rendahnya atau kurangnya konflik serta penyusunan konflik yang tidak baik.
  2. Tersendat
    Efek ketersendatan yang dirasakan penonton terjadi manakala ilusi mereka tersendat, yaitu Kehendak Sampingan saling tumpang tindih; kekurangan tenaga penggerak yaitu kekurangan unsure dramatic; informasi yang tidak kontinyu/terputus-putus; dan terlalu mengumbar flashback yang menghambat perjalanan ilusi penonton ke depan.
  3. Meletihkan
    Disebabkan kesalahan kalkulasi.

C. Tangga Dramatik (Dramatic Graduation)

Tangga Dramatik yang baik manakala penyusunan nilai dramatiknya disusun meningkat terus dengan pencapaian klimaks menjelang akhir cerita dan disusul sedikit dengan anti-klimaks.

Post Author: Qowi Endah

Tinggalkan Balasan