Skenario adalah naskah cerita yang didesain untuk disajikan sebagai film, karena itu penuturannya filmis bukan literer. Sebelum menulis sebuah skenario diperlukan beberapa tahapan dasar yang akan mempermudah proses penulisan. Persiapan pembuatan skenario juga berbeda dengan persiapan yang diperlukan untuk menulis novel misalnya. Persiapan penulisan skenario dimulai dari adanya Ide Pokok, Tema, Cerita Dasar, membuat Penokohan, Sinopsis, dan Treatment.

A. Memiliki Ide Pokok

Ide Pokok adalah pesan utama yang ingin disampaikan dalam cerita. Ide yang menjadi dasar pembuatan sebuah film/tayangan televisi, bisa berasal dari beragam sumber, misalnya saja perenungan, pengalaman pribadi atau orang lain, peristiwa dalam kehidupan sehari-hari, hasil membaca literatur (buku-surat kabar-majalah), hasil olah panca indera, ataupun imajinasi. Umpamanya ide dasar sebuah film atau tayangan televisi adalah Penyalahgunaan Narkoba, yang bisa saja berasal dari pengalaman seseorang, hasil membaca berita di surat kabar atau menonton di televisi.

B. Memiliki Tema

Tema : Pokok cerita; tentang apa cerita film/tayangan televisi yang dibuat. Pertanyaan tentang tema harus bisa dijawab dalam bentuk uraian dalam satu kalimat yang kuat tentang “siapa yang bagaimana”.

Dari tema bisa dinilai: bagaimana daya tarik tokoh-tokoh utamanya, bisa dikembangkan menjadi cerita yang unik, bisa digunakan membahas sebuah permasalahan, mempunyai kemungkinan menjadi film atau tayangan televisi yang serius, mampu memancing reaksi atau respons ( positif ) dari masyarakat. Tugas membuat statement tema pada awal penyiapan cerita bukan hanya bagi pemula, namun seorang penulis senior pun dituntut untuk selalu bekerja atas dasar konsep yang jelas sejak awal.

C. Membuat Cerita Dasar / Basic Story

Sebelum gagasan cerita dikembangkan sebagai cerita lengkap, dibuat dulu sketsanya dalam bentuk Cerita Dasar atau Basic Strory. Cerita Dasar sebagai “kerangka” dari Sinopsis yang hendaknya ringkas dan padat sehingga sepintas bisa menampakkan hal-hal pokok.

Hal-hal pokok tersebut antara lain:

Alur cerita utama&Problema Utama,Sub-sub Plot penting, Tokoh Utama dan tokoh- tokoh penting, Motif-motif penting, Key-Sellingpoint cerita, Klimaks & penyelesaian, serta Isi Cerita.

Untuk trampil membuat Cerita Dasar perlu latihan, karena diperlukan konsep yang matang tidak sekadar mengembangkan cerita dengan mengikuti insting saja.

Plot adalah alur cerita yang didesain atau direkayasa untuk mencapai tujuan tertentu.

Alur Cerita Utama & Problema Utama yakni uraian lebih jelas dari Plot utama, yang sudah bisa membayangkan apa yang menjadi problema utama, bagaimana kekuatan dramatik ceritanya, serta keindahannya sebagai cerita.

Sub-sub Plot penting yang menunjang sekali terhadap Plot utama, hendaknya bisa juga ditampilkan. Namun demikian tidak semua sub-Plot perlu dicantumkan dalam uraian Cerita Dasar untuk menghindari uraian yang terlalu panjang.

Tokoh Utama dan tokoh-tokoh penting merupakan objek yang diceritakan sehingga sejak awal sudah harus bisa dinilai apakah objek tersebut memang menarik atau tidak. Bila perlu bisa diperlihatkan keunikan serta kekuatannya melalui informasi penunjang agar tokoh tersebut bisa dinilai.

Motif-motif penting yang dimaksud adalah motif yang melahirkan action penting dalam cerita. Penjelasan motif akan menerangkan apa problemanya, berapa kekuatan action itu, kemana arah action tersebut.

Key-Selling point cerita adalah dimana letak “nilai lebih” dari cerita yang digarap, dimana letak daya jualnya sehingga bisa menarik produser untuk membuat atau menarik animo yang besar dari masyarakat. Dengan menetapkan dimana “kunci daya jual” berada maka ketika dikembangkan menjadi cerita penuh dan skenario

“kunci daya jual” itu harus mendapat fokus dan aksen. Pada tahap Cerita Dasar hendaknya sudah kelihatan apa yang menjadi “kunci daya jual”, bila belum kelihatan bisa lebih mudah dilakukan koreksi daripada sesudah menjadi cerita lengkap.

Dengan Klimaks dan penyelesaian tercantum dalam Cerita Dasar akan bisa dinilai apakah langkah action yang tercantum memang cukup kuat untuk sampai pada klimaks dan apakah cukup informasi untuk memberi penyelesaian.

Bila terasa munculnya klimaks sebagai adegan yang dipaksakan, hendaknya segera diberi penunjang.

Isi Cerita seyogianya cuma satu, namun khalayak bisa saja menarik kesimpulan masing-masing. Seorang penulis cerita harus tetap fokus pada isi cerita yang sudah ditetapkannya, menyiapkan problema, segala kejadian, informasi dan sebagainya agar khalayak bisa menyimpulkan isi cerita yang diharapkan menjadi bahan renungan. Sebuah cerita bisa disimpulkan menjadi lebih dari satu kesimpulan bahkan bisa juga tanpa kesimpulan sama sekali karena sejak awal penulis cerita tidak menyebutkan dalam Cerita Dasar. Isi Cerita sudah harus ditetapkan sejak mulai cerita dikonsep, karena pada dasarnya yang akan disampaikan penulis cerita adalah Isi Cerita, sedangkan cerita hanyalah sebagai kemasan. Setelah Isi Cerita apa yang akan disampaikan diketahui, hendaknya dicoba dirumuskan dalam sebuah kalimat singkat dan padat. Hindari perumusan Isi Cerita dalam ungkapan yang bersifat umum, karena hanya akan memerlukan dukungan sekadar cerita biasa-biasa saja.

Post Author: Qowi Endah

Tinggalkan Balasan