Kedudukan pelaku dalam cerita adalah terpenting sehingga semua pelaku cerita haruslah membuat penonton terpikat dan ingin mengetahui jalan cerita sampai akhir.Penokohan mengandung unsur-unsur: tokoh baru, menarik dan manusiawi, menonjol, jelas karakteristiknya, profesi-status ekonomi sosial, latar belakang budaya, protagonis-antagonis, berkembang, dan meyakinkan.

Jika cerita memang memunculkan tokoh cerita riil bukan karangan maka pasti tokoh itu berbeda dari yang pernah difilmkan, karena pada dasarnya tidak ada manusia

 

yang sama persis. Tokoh baru dapat dimunculkan dengan memberikan tekanan pada ciri khas si tokoh. Kesulitan biasanya muncul bila si tokoh adalah tokoh fiktif. Dengan mencampur dua-tiga tokoh unik yang pernah ada, bukan dengan mengubah-ubah tokoh yang sudah ada, bisa juga untuk memunculkan tokoh baru. Tokoh cerita harus pula Menarik dan manusiawi. Pada dasarnya setiap orang punya keunikan hanya saja tidak selalu menonjol. Hal inilah yang harus diberi penekanan secara tepat oleh penulis skenario. Harus ditemukan dulu apa keunikan yang paling menarik dan efektif ditonjolkan lewat bahasa film.

Tokoh-tokoh yang berperan dalam cerita adalah selektif, Menonjol dari lingkungannya. Kemenonjolan ini penting, karena begitu tokoh diperlihatkan maka akan tampak pula lingkungan sekelilingnya. Bila tokoh dalam cerita film atau tayangan televisi tidak diberi kontur/ciri khas yang jelas, maka akan selalu berbaur dengan lingkungannya sehingga berada diluar fokus. Dalam usaha memberi kontur/ciri khas pada tokoh, seorang penulis bisa saja terjebak membuat tokoh  yang tidak wajar.

Kejelasan karakteristik meliputi Karekteristik Fisik, Karakteristik Pikiran/Kecerdasan, Karakteristik Psikis, Watak, Gangguan Khusus, Ahlak, Keyakinan dan Falsafah yang Dianut. Intensitas penjelasan karakteristik sesuai dengan berapa banyak penjelasan bagi seorang tokoh yang dibutuhkan oleh cerita.

Profesi-status ekonomi sosial, gabungan profesi dan status ekonomi bisa memberikan informasi baru.

Pengaitan Latar belakang budaya pada tokoh cerita untuk memberikan informasi tambahan tertentu sekadar terbatas pada apa yang sudah banyak diketahui atau dipahami oleh masyarakat.

Tokoh protagonis adalah tokoh utama dalam cerita, sedangkan tokoh antagonis adalah lawan tokoh utama. Secara sederhana dianalogikan tokoh “jagoan” dan tokoh ”penjahat”. Namun tidak selalu begitu, tergantung bagaimana isi cerita karena bisa saja sebuah film atau tayangan televisi mengangkat kehidupan para penjahat. Setelah sang tokoh berkecimpung dalam perjalanan cerita, maka ia harus menjadi berbeda dibandingkan ketika pertama kali muncul dalam cerita, istilahnya si tokoh

 

berkembang. Khalayak tidak ingin melihat tokoh yang monoton, mereka juga ingin mengetahui dampak dari problema yang menerpa tokoh selama perjalanan cerita.

Tokoh cerita yang ditambahi sekian banyak informasi dan diolah menjadi sedemikian rupa, hasil akhirnya haruslah bisa meyakinkan khalayak. Keyakinan yang dirasakan khalayak adalah keyakinan filmik, yaitu hasil rekayasa teknik bertutur filmik dan kesediaan khalayak memahami idiom-idiom yang sudah sering “didiktekan” oleh film atau tayangan televisi.

Post Author: Qowi Endah

Tinggalkan Balasan